Cerita tentang Hinda Belanda

Sumber : Riezky Andhika Pradana (27 September 2015), “Cerita tentang Hindia Belanda”, Tribun Jogja. Dimuat ulang di situs issuu milik Tribun Jogja.

Image courtesy: Tribun Jogja / IST

Puluhan lukisan baik yang berukuran kecil, hingga yang paling besar, bercerita tentang negeri Hindia Belanda berjejer di ARK Galerie, Jl. Suryodiningratan 36A, Yogyakarta. Selain lukisan juga terpampang karya seni video, dan arsip-arsip gambar bergerak yang menjadi bahan riset sang seniman.

Adalah Otty Widasari seniman asal Jakarta yang menggelar pameran tunggal bertajuk ‘Ones Who Looked at the Presence’. Pameran ini mempresentasikan sebagian karya dari proyek seni Otty yang mengajak kita untuk menjelajah masa lalu dengan suatu kesadaran, bahwa arsip adalah sumber pengetahuan universal yang layak diakses oleh sapa pun tanpa terkecuali.

‘Ones Who Looked at the Presence’ adalah proyek seni berkelanjutan Otty Widasari yang mencoba mengeksplorasi hubungan antara filem, media, arsip, aksi dokumentasi, serta fenomena representasi dan produksi.

San seniman membedah satu demi satu dari setiap adegan gambar begerak yang merupakan reproduksi dari arsip-arsip kolonial mengenai kehidupan masyarakat Hindia Belanda dahulu di tujuh lokasi (Papua, Lembata, Toraja, Banjarmasin, Balikpapan, Jawa Tengah, dan Jakarta) menjadi karya lukis dan seni video.
Aksi ini adalah caranya untuk melakukan “perekaman antropologis” terhadap peristiwa masa lalu melalui kerangka berpikir dan konteks masa kini: membalikkan kuasa terhadap sumber pengetahuan (sejarah) dan arisp, lantas dengan tepat meletakkannya di dalam ranah seni rupa zaman sekarang. Sebuah riset saksama terhadap subjek-subjek historis di dalam arsip; menciptakan representasi baru yang mendekatkan kita kepada sejarah, melintasi ruang dan waktu.

Diskusi
Sehari setelah pembukaan, pada Jumat (11/9) juga dilakukan diskusi publik yang memfokuskan percakapan mengenai sei rupa dan sinema. Pada diskusi ini hadir tiga pembicara, yaitu: Manshur Zikri (kurator), Otty Widasari (seniman), dan Yosep Anggi (sutradara dan pembuat filem); serta moderator Alia Swastika (kurator dan Direktur Program ARK Galerie).

Ada dua filem yang juga diputar dalam diskusi publik ini: Jabal Hadroh, Jabal Al Jannah (2013) karya Otty Widasari dan Gerimis Sepanjang Tahun (2015) karya Komunitas Ciranggon. Menurut Manshur Zikri, kurator pameran ini, di era termutakhir saat manusia telah mampu membuat dan menggunakan pelbagai teknologi perekaan super canggih, yang dapat membuat representasi objek (lantas mereporduksinya) menjadi 100% serupa dengan bentuk riil, maka pemilihan “tata cara lama” untuk membingkai kenyataan dan imajinasi, seperti kegiatan melukis, masih relevan untuk dilihat pada hari ini.

Hal ini, menurutnya, sebagai sebuah aksi untuk membaca bagaimana sesungguhnya media mengonstruksi realitas dan sejarah kita.

Inisiatif untuk menelaah kemungkinan-kemungkinan baru akan suatu proses yang berkenaan dengan gambar, seperti mentransformasi arsip citra bergerak menjadi lukisan, akan memancing suatu spekulasi baru dalam mengungkap selubun misteri dari interseksi antara lokasi, kehadiran, dan fungsi dari materi-mater tubuh, medium, dan juga gesture sosial. Pameran ini digelar mulai 10 September hingga 15 Oktober 2015 mendatang.
Otty Widasari ialah seniman kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur, 12 September 1973. Ia sempat menempuh pendidikan di bidang Jurnalistik di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP_ Jakarta, dan menyelesaikan S2 di Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 2013.

Sebelumnya, Otty juga dikenal sebagai filmmaker, penulis, kurator dan aktivis media. Ia juga merupakan salah satu pendiri Forum Lenteng. Sejak tahun 2008 hingga kini, ia adalah Direktur Program Pendidikan Media Berbasis Komunitas, akumassa, Forum Lenteng.

Kini, ia adalah salah satu kurator filem di ARKIPEL Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival. Sebagai seorang pembuat filem, ia telah membuat dokumenter feature, berjudul Naga yang Berjalan di Atas Air (2012), yang telah dipresentasikan di 4th DMZ International Documentary Film Festival, Korea Selatan.

Sebagai seorang aktivis media, ia telah sering menjadi fasilitator dalam workshoo atau pembicara dalam diskusi mengenai dan filem. Sebagai seorang seniman, karya-karyanya telah dipresentasi di pelbagai pameran dalam dan luar negeri, antara lain Translated SPACE, ID Contemporary Art of Indonesia, Kunstraum Krausberg, Berlin (2010); Yogyakarta Biennale (2013); Jakarta Biennale (2013)’ dan SeMA Biennale Mediacity Seoul, Korea Selatan (2014).
Tahun 2011, Ottu menjadi salah satu nominasi Indonesian Art Awards. Saat ini, ia tinggal dan berkarya di Jakarta. (rap)

Kecanggungan Masa Lalu di Zaman Selfie

Sumber : Arif Koes Hernawan (21 September 2015), “Kecanggungan Masa Lalu di Zaman Selfie”, Majalah Gatra. Dimuat ulang di situs web Majalah Gatra.

 

Seorang laki-laki berbusana necis, dengan jas putih dan dasi kupu-kupu, mengangkat topi. Tatapan mata dan mimiknya menunjukkan rasa percaya diri ke arah kita. Di belakangnya, seorang perempuan dengan gaun dan topi putih juga tak sungkan, dengan wajah datar, pun menatap ke arah kita. Jauh di belakang sana seorang dewasa dan anak-anak terlihat menikmati suasana yang cerah. Suasana dalam lukisan itu ditegaskan lagi dengan teks dan sekaligus menjadi judul: Yang mengangkat topi kepada kamera, di hari libur keluarga Eropa, Teluk Balikpapan.

Bersanding di sebelahnya, dalam medium yang sama, sebuah lukisan akrilik 2×1,5 meter, ilustrasi seorang anak yang tengah dicukur. Si pemotong rambut, dengan kumis lencir dan kulit gelap, fokus ke pekerjaannya. Tiga orang di belakang menonton. Sementara si bocah dengan rambut sekuping yang nyaris menutupi mata melengos. Ada yang tidak bisa melihat kamera menjadi judul yang dibubuhkan di bagian bawah lukisan itu.

Dua caption verbal semacam itu –”yang melihat kamera” dan ”yang tidak melihat kamera”– mengisi kebanyakan lukisan Otty Widasari dalam pameran tunggalnya ”Ones Who Looked at the Presence”. Pameran ini digelar di Ark Galerie, Jalan Suryodiningratan 36 Yogyakarta, 10 September-15 Oktober 2015.

Otty menyajikan enam lukisan 2 x 1,5 meter, 95 lukisan 35 x 50 sentimeter, dan tiga video. Lukisan dihadirkan dalam ilustrasi dan sapuan sederhana yang kadang mengabaikan detail. Namun materi lukisan tidak sesederhana itu.

Seperti tampak dari arsip video yang diputar di pameran ini, lukisan-lukisan Otty bersumber dari adegan-adegan film yang dibuat Pemerintah Kolonial Belanda tentang beberapa lokasi di Indonesia. Ada tujuh daerah di masa kolonial yang di-capture Otty dari ”gambar idoep” Belanda.

Mereka disusun berderetan dalam tiga tingkat meski bukan dalam bentuk skena-skena yang berurutan. Namun, secara umum, masing-masing dikelompokkan berdasarkan keterangan tempat. Mulai deretan 10 lukisan pertama memotret suasana kota dan pasar di Banjarmasin, 12 ilustrasi untuk Lamalera yang menangkap momen ketika musim perburuan paus, Jakarta, Toraja, Balikpapan, hingga 13 lukisan dengan dominasi warna gelap untuk Jati, daerah di sekitar Magelang, yang menjadi lokasi pembangunan rel kereta api.

Di Jati, dalam suasana gelap –seakan dalam hutan yang gelap, atau malam, atau metafor akan suramnya pembangunan di masa penjajahan— para blandong menghabisi hutan, menghasilkan log-log kayu, dan mengangkutnya dengan lori.

Delapan lukisan sambungannya bertajuk Willem I, nama pangeran Belanda yang dijadikan sebagai nama stasiun kereta api pertama di Hindia Belanda di Muntilan, Magelang. Bagian ini dipulas Otty dengan warna cerah menghadirkan orang-orang Belanda berpose di samping rel dan stasiun, dengan paras cerah, dan berlatar cakrawala seakan menyiapkan daerah jajahan yang gilang gemilang.

Bagian karya Otty di bawah judul Jati dan Willem I dipetik dari sebuah dokumenter karya J.C. Lamster yang menjadi semacam laporan pertanggungjawaban akan perkembangan pembangunan di daerah kolonial kepada Pemerintah Kerajaan Belanda.

Pada bagian dinding terpisah masih ada 19 lukisan tentang Suku Asmat. Bagian ini menjadi rekaman antropologis suku di Papua tersebut pada periode 1948-1952. Aktivitas dan identitas etnis mereka terekspose dengan jelas. Namun, seperti halnya karya-karya tentang masa kolonial, adegan dalam ilustrasi tentang Asmat juga menangkap wajah dan gestur mereka yang sadar kamera.

Sumber visual lukisan-lukisan itu, adegan-adegan yang menunjukkan respons orang Belanda dan warga lokal terhadap kamera, dicomoti lalu dikompilasi Otty pada dua video yang masing-masing berdurasi dua menitan. Pada video lain, ia memutar rekaman tentang eksploitasi para pekerja demi proyek kolonial di Jati di negeri asalnya, Belanda.

Video Jati Goes to Rotterdam diputar di sebuah komputer jinjing dan diletakkan di tengah trotoar Rotterdam. Melalui kamera ponselnya, Otty merekam situasi itu: kebanyakan bule cuek, sebagian celingukan ke arah laptop dan kamera, ada juga yang menonton sembari jalan.

Karya-karya dalam pameran ini merupakan kelanjutan dari hasil residensi Otty di Utrecht, Belanda. Bisa dibilang sebagai sebuah proyek personal mengingat beberapa lokasi bertalian dengan kehidupannya. Otty dilahirkan dan mengalami masa kecil di Balikpapan, 12 September 1973. Di kota itu mempunyai memori dan imajinasi tersendiri akan pabrik minyak di sana.

Sebagai artist, karya-karyanya hadir, antara lain, di Translated SPACE, ID Contemporary Art of Indonesia, Kunstraum Krausberg, Berlin, 2010; Jogja Biennale dan Jakarta Biennale pada 2013, dan SeMA Biennale Mediacity Seoul, Korea Selatan 2014. Karya film fitur-dokumenternya Naga yang Berjalan di Atas Air (2012), diputar di 4th DMZ International Documentary Film Festival, Korea Selatan.

Ia ikut mendirikan dan mengelola Forum Lenteng. Di komunitas ini ia Direktur Program Pendidikan Media Berbasis Komunitas, akumassa, sejak 2008. Otty juga kurator film di Arkipel, sebuah festival film eksperimental di Jakarta.

Persentuhannya yang intim dengan dunia film dana video —juga studinya di jurnalistik— seakan menjadikan muatan dalam karya-karyanya yang bisa menjadi sarana untuk menunjukkan mekanisme dan sistem produksi media (massa) bekerja.

Tak mengherankan jika kurator Manshur Rizki menyebut Otty sanggup merebut kembali harta yang dicuri oleh pihak kolonial, yakni kontruksi mereka atas respon kita terhadap teknologi dan hal-hal baru beserta akses dan pengetahuannya —dan membingkainya dalam sebuah seni kontemporer.

Yang menarik justru pilihan tema Otty yang secara tidak langsung mampu menghadirkan karakter-karakter masa lalu. Bagaimana orang lokal bersikap canggung, bahkan terganggu, pada kamera, sementara orang Barat menganggap sebagai momen pengabadian, narsisme, dan kepongahan. Karakter-karakter masa lalu itu seolah menatap kita dan bertanya tentang sejauh mana relasi kita dengan teknologi kamera hari ini, di masa peradaban selfie ini.

Pameran Otty Widasari Mengajak Menjelajahi Masa Lalu

Sumber : Tribun Jogja (27 September 2015), “Pameran Otty Widasari Mengajak Menjelajahi Masa Lalu”, tribunjogja.com

Image courtesy: tribunjogja.com

Puluhan lukisan baik berukuran kecil, hingga paling besar yang bercerita tentang negeri Hindia Belanda berjejer di Ark Galerie, Jl Suryodiningratan 36A Yogyakarta.

Selain lukisan juga terpampang karya seni video, dan arsip-arsip gambar bergerak yang menjadi bahan riset sang seniman.

Adalah Otty Widasari seniman asal Jakarta yang menggelar Pameran tunggal bertajuk ‘Ones Who Looked at the Presence’.

Pameran ini mempresentasikan sebagian karya dari proyek seni Otty yang mengajak kita untuk menjelajah masa lalu dengan suatu kesadaran, bahwa arsip adalah sumber pengetahuan universal yang layak diakses oleh siapa pun tanpa terkecuali.

‘Ones Who Looked at the Presence’ adalah proyek seni berkelanjutan Otty Widasari yang mencoba mengeksplorasi hubungan antara filem, media, arisp, aksi dokumentasi, serta fenomena representasi dan reproduksi.

Sang seniman membedah satu demi satu dari setiap adegan gambar bergerak yang merupakan reproduksi dari arsip-arsip kolonial mengenai kehidupan masyarakat Hindia Belanda dahulu di tujuh lokasi.

Yakni Papua, Lembata, Toraja, Banjarmasin, Balikpapan, Jawa Tengah, dan Jakarta.

Aksi ini adalah caranya untuk melakukan “perekaman antropologis” terhadap peristiwa masa lalu melalui kerangka berpikir dan konteks masa kini: membalikkan kuasa terhadap sumber pengetahuan (sejarah) dan arsip, lantas dengan tepat meletakkannya di dalam ranah seni rupa zaman sekarang.

Sebuah riset saksama terhadap subjek-subjek historis di dalam arsip; menciptakan representasi baru yang mendekatkan kita kepada sejarah, melintasi ruang dan waktu.

Sehari setelah pembukaan, pada Jumat, (11/9) juga dilakukan diskusi publik yang memfokuskan percakapan mengenai seni rupa dan sinema. Pada diskusi ini hadir tiga pembicara, yaitu: Manshur Zikri (kurator), Otty Widasari (seniman), dan Yosep Anggi (sutradara dan pembuat filem); serta moderator Alia Swastika (kurator dan Direktur Program Ark Galerie).

Ada dua filem yang juga diputar dalam diskusi public ini: Jabal Hadroh, Jabal Al Jannah (2013) karya Otty Widasari dan Gerimis Sepanjang Tahun (2015) karya Komunitas Ciranggon.

Menurut Manshur Zikri kurator pameran ini, di era termutakhir saat manusia telah mampu membuat dan menggunakan pelbagai teknologi perekaan super canggih, yang dapat membuat representasi objek (lantas mereproduksinya) menjadi 100% serupa dengan bentuk riil.

Maka pemilihan “tata cara lama” untuk membingkai kenyataan dan imajinasi, seperti kegiatan melukis, masih relevan untuk dilihat pada hari ini.

Hal ini menurutnya sebagai sebuah aksi untuk membaca bagaimana sesungguhnya media mengonstruksi realitas dan sejarah kita.

Inisiatif untuk menelaah kemungkinan-kemungkinan baru akan suatu proses yang berkenaan dengan gambar.

Seperti mentransformasi arsip citra bergerak menjadi lukisan, lanjut Zikri, akan memancing suatu spekulasi baru dalam mengungkap selubung misteri dari interseksi antara lokasi, kehadiran, dan fungsi dari materi-materi, tubuh, medium, dan juga gesture sosial.

Pameran ini digelar mulai 10 September hingga 15 Oktober 2015 mendatang.

Otty Widasari ialah seniman kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur, 12 September, 1973. Ia sempat menempuh pendidikan di bidang Jurnalistik di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, dan menyelesaikan S1 di Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 2013.

Sebelumnya Otty juga dikenal sebagai filmmaker, penulis, kurator dan aktivis media. Ia juga merupakan salah satu pendiri Forum Lenteng.

Sejak tahun 2008 hingga kini, ia adalah Direktur Program Pendidikan Media Berbasis Komunitas, akumassa, Forum Lenteng.

Kini, ia adalah salah satu kurator filem di ARKIPEL – Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival.

Sebagai seorang pembuat film, ia telah membuat filem dokumenter feature, berjudul Naga Yang Berjalan Di Atas Air (2012), yang telah dipresentasikan di 4th DMZ International Documentary Film Festival, Korea Selatan.

Sebagai seorang aktivis media, ia telah sering menjadi fasilitator dalam workshop atau pembicara dalam diskusi mengenai media dan film.

Sebagai seorang seniman, karya-karyanya telah dipresentasikan di pelbagai pameran dalam dan luar negeri.

Antara lain Translated SPACE, ID Contemporary Art of Indonesia, Kunstraum Krausberg, Berlin (2010); Yogyakarta Biennale (2013); Jakarta Biennale (2013); dan SeMA Biennale Mediacity Seoul, Korea Selatan (2014). Tahun 2011, Otty menjadi salah satu nominasi Indonesian Art Awards. Saat ini, ia tinggal dan berkarya di Jakarta.

Kamera dan Kuasa Masa Kolonial

Sumber : Haris Firdaus (20 September 2015), “Kamera dan Kuasa Masa Kolonial”, KOMPAS. Dimuat ulang di situs web blog pribadi penulis.

Image courtesy: Haris Firdaus

Sejumlah kereta pengangkut kayu bergerak menyusuri rel di tengah hutan. Beberapa orang bertelanjang dada berada di atas kereta, berdiri siaga menjaga kayu yang entah dibawa ke mana. Tetapi tiba-tiba rangkaian gambar itu berhenti, berganti gambar sebuah komputer jinjing yang sedang memutar video pengangkutan kayu yang kita lihat sebelumnya.

Saat sudut pandang dalam karya video itu mulai meluas, penonton tahu mereka sebenarnya sedang menonton sebuah laptop yang memutar rangkaian gambar bergerak ihwal pengangkutan kayu di Hindia Belanda pada masa kolonial. Komputer jinjing itu diletakkan di sebuah kafe, tetapi kemudian gambar itu berganti dengan gambar laptop yang diletakkan di sebuah lapangan.

Dan, tentu saja laptop yang berada di lapangan itu sedang menampilkan video berisi laptop di sebuah kafe. Ya, ini memang video di dalam video. Diberi berjudul “Jati Goes to Rotterdam”, video garapan Otty Widasari itu ditampilkan dalam pameran tunggal bertajuk “Ones Who Looked At The Presence” di Ark Galerie, Yogyakarta, pada 10 September sampai 15 Oktober 2015.

Di kalangan seniman media baru Indonesia, Otty Widasari, yang lahir di Balikpapan pada 12 September 1973, bukanlah nama yang asing. Perempuan lulusan Institut Kesenian Jakarta itu merupakan salah satu pendiri Forum Lenteng, sebuah kelompok yang aktif memproduksi dan mengkaji karya seni audiovisual. Otty juga telah menghasilkan beberapa film dan karya video yang dipresentasikan dan dipamerkan di banyak pameran di dalam dan luar negeri.

Meskipun dikenal sebagai pembuat film dan seniman video, dalam pameran “Ones Who Looked At The Presence”, Otty justru lebih banyak menampilkan lukisan. Pameran yang dikuratori Manshur Zikri itu menampilkan empat video, enam lukisan berukuran 2 meter x 1,5 meter, dan 95 lukisan berukuran 35 sentimeter x 50 sentimeter. Karya-karya tersebut dikembangkan dari temuan Otty saat melakukan residensi di Belanda pada akhir 2014.

Saat melakukan penelitian di sejumlah museum di Belanda, Otty menemukan beberapa arsip gambar bergerak atau video yang berisi gambaran kondisi Indonesia pada masa kolonial. Video itu diambil oleh aparat pemerintah Hindia Belanda hanya beberapa tahun setelah kamera perekam ditemukan pertama kali.

“Arsip gambar bergerak yang saya temukan itu merupakan laporan audiovisual tentang perkembangan pembangunan di Hindia Belanda, misalnya tentang pembangunan jalur kereta api dan bendungan,” kata Otty.

Otty lalu memilih tujuh arsip gambar bergerak masa kolonial yang menggambarkan situasi di lokasi berbeda di Indonesia, yakni di Balikpapan, Kalimantan Timur; Banjarmasin, Kalimantan Selatan; Toraja, Sulawesi Selatan; Jakarta dan Bandung; Jawa Tengah; Lamalera, Nusa Tenggara Timur; dan Papua. Muatan tiap arsip itu berbeda-beda. Di Balikpapan, misalnya, arsip gambar bergerak itu berisi aktivitas di sekitar pelabuhan tak jauh dari kilang minyak.

Adapun arsip di Banjarmasin menggambarkan situasi pasar yang berisi tukang obat dan anak-anak yang bermain.“Semua arsip gambar bergerak itu berasal dari tahun 1912 sampai 1914, kecuali arsip tentang Papua yang berasal dari tahun 1946-1952,” ujar Otty.

***

Selama sekitar 100 tahun, arsip-arsip gambar bergerak itu tersimpan di sejumlah museum di Belanda dan tak bisa diakses dengan leluasa oleh masyarakat Indonesia. Kondisi itulah yang merangsang Otty untuk mengambil kembali arsip-arsip itu dan membawanya ke Indonesia, tetapi tentu bukan dalam bentuknya yang asli. Otty memilih mengambil sejumlah potongan arsip gambar bergerak itu, kemudian mengolahnya menjadi karya baru, baik dalam bentuk video maupun lukisan.

Dalam karya video “Jati Goes to Rotterdam”, misalnya, Otty mengambil potongan rekaman gambar bergerak tentang pengangkutan kayu jati di sejumlah hutan di Hindia Belanda. Rekaman itu kemudian dibawa dan diputarnya di Rotterdam, salah satu kota di Belanda yang pada masa lalu merupakan pelabuhan besar yang dipakai untuk menampung hasil bumi dari tanah jajahan, termasuk kayu jati.

Setelah berkeliling Rotterdam, Otty membawa kembali video itu ke Indonesia dan memutarnya di sebuah hutan jati di Sumedang, Jawa Barat. Dengan melakukan itu, secara metaforis, Otty seolah ingin mengambil kembali kayu jati yang dulu dibawa kaum kolonial ke Belanda, lalu mengembalikannya ke hutan di tanah air.

Namun, gagasan soal “pengambilan kembali” itu bukanlah satu-satunya ide besar dalam pameran “Ones Who Looked At The Presence”. Saat melihat arsip-arsip gambar bergerak masa kolonial, Otty tertarik dengan bagaimana masyarakat Nusantara berhadapan dan bereaksi dengan kamera yang dibawa aparat kolonial. Waktu itu, kamera adalah teknologi yang masih sangat baru dan mayoritas orang-orang pribumi di Hindia Belanda pastilah tak mengenal alat tersebut.

Melalui 101 buah lukisannya, Otty menampilkan kembali penggalan-penggalan adegan dalam arsip video masa kolonial yang terutama mengeksplorasi hubungan manusia dan teknologi baru bernama kamera. Dengan lukisan, Otty secara leluasa bisa menonjolkan dan menghidupkan adegan audiovisual yang ia anggap menarik. Semua obyek dalam lukisan-lukisan itu sama dengan gambar dalam arsip audiovisual, kecuali warnanya. “Saya hanya menambahkan warna karena gambar dalam arsip aslinya kan masih hitam putih,” kata Otty.

Dalam salah satu lukisannya, Otty menampilkan dua orang Papua, lelaki dan perempuan, yang menatap tajam ke arah kamera. Sang perempuan berada di belakang si lelaki, tampak takut atau khawatir melihat kamera. Mata keduanya menyelidik tajam saat merasakan kehadiran kamera.

Dalam lukisan lain, Otty menghadirkan beberapa orang Eropa yang terlihat santai saat menghadapi kamera. Bahkan, salah satu orang tersebut mengangkat topi ke arah kamera, sebuah sikap yang menunjukkan rasa senang terhadap kehadiran alat itu. Perbedaan sikap antara masyarakat pribumi dan warga Eropa terhadap kamera bisa dilihat dalam sejumlah lukisan Otty lain.

Namun, yang mungkin perlu dipertegas, perbedaan respon itu tak hanya muncul karena masalah pengetahuan (sudah mengenal kamera atau belum) tetapi juga akibat problem kekuasaan. Ketika kamera dipegang oleh kaum kolonial, mau tak mau alat itu menjadi bagian dari kekuasaan yang menindas masyarakat Nusantara. Maka, respon orang-orang jajahan terhadap kamera juga bisa dilihat sebagai representasi sikap mereka pada para penjajah.